25 Juni 2016

Published Juni 25, 2016 by with 0 comment

Pesta perkawinan di Ende




Jumat, 05:49 WITA



Da turun ke kota bersama pak Kans kemaren sore dalam rangka menghadiri pernikahan salah seorang guru smp di kota. Malamnya da susah tidur, terbangun setiap satu jam menjelang subuh. Pagi ini da melanjutkan novel tere liye serial anak anak mamak “PUKAT” yang da beli di pasar ende. Bab 8 berjudul perpisahan membuat da harus mengalah pada gravitasi yang cukup besar. Airmata ini mengalir dengan sendirinya mencoba merangkai asa da untuk menginjak daun daun maple yang sedang berguguran suatu saat nanti. Novel ini sungguh menginspirasi da yang insyaallah mengantarkan da ke benua putih itu entah beberapa tahun lagi. Dengan sabar da menunggu janji yang Allah gariskan untuk da. Semoga yang terbaik.

Da dijemput oleh pak kans jam setengah 8 menuju pesta ibu Tin yang berlangsung di rumahnya di dekat Barata. Ketika kami datang lampu sedang padam, sesaat seolah da terjebak di tempat antah berantah, kemdian genset mulai menyala, dan kami para guru yang datang sudah berkumpul sebelumnya di luar gang mulai bersalaman bersama pengantin. Pengantinnya terlihat aneh dan tua bagi da, ternyata mereka sudah mempunyai anak sebelumnya dan sudah berumur 4 tahun. Adat disini terutama yang beragama katolik sudah biasa tinggal bersama walau belum menikah. Hal ini terkendala sistem adat berupa “belis” yang sangat mahal. Biasanya belis tersebut berupa hewan ternak seperti babi dan kerbau. Se ekor babi saja bisa mencapai jutaan harganya dan menjadi hewan ternak termahal. Maka banyak dari warga yang belum mampu untuk mengadakan pemberkatan pernikahan, tinggal serumah terlebih dahulu, bekerja dan mengumpulkan uang untuk pemberkatan menikah mereka di gereja.

Awalnya da ragu untu makan, setelah MC acara mengatakan makanan tersebut halal 100% baru lah da sedikit lega. Terlihat ada juga mama mama yang berjilbab menghadiri pesta. Kerukunan umat beragama yang cukup tinggi terbukti dengan hidup damai saling berdampingan di bumi tempat pancasila dikandung katanya. Sebelum makan di buka dengan doa agama katolik dan da hanya terdiam melihat mereka menggerakan tangnnya disekitar dada.

Acara dilanjutkan dengan musik dan tarian. Dibuka dengan sesorang yang menari dengan selendang khas tenun ende. Setelah dia menari beberapa saat kemudian meletakan selendang ke para tamu undangan yang datang. Tamu yang mendapatkan selendang tersebut harus maju ke depan sendirian dan mulai menari dengan gaya yang diinginkan masing-masing pribadi. Begitu selanjutnya bergiliran orang demi orang hingga kedapatan kepala sekolah da yang duduk di depan. Beliau pun mulai berjoget ala- ala masyarakat flores yang membuat tawa para guru yang lainnya berderai. Setelah ini masih berlanjut dengan tarian ‘gawi’. Semua hadirin yang duduk mulai berdiri ke depan dan membentuk lingkaran demi lingkaran seperti obat nyamuk, saling bergandengan satu sama lain serta mulai benari bersama. Hentakan kaki yang seirama dengan iringan musik yang khas membuat susasana terasa mengasyikan bagi mereka. 

Acara joget ini bisa mereka lakukan sampai subuh tanpa henti dan tanpa rasa lelah.melihat mama mama yang muslim mulai bergerak pulang, da pun mengikuti mereka. Setelah pamit sama pak kans, da berjalan kaki pulang ke perumnas yang jaraknya tak seberapa. Mencoba menghindari hirup pikuk yang da benci selama ini bahkan di kampung halaman sendiri. Da benci acara acara dengan musik yang menghentak memekakan telinga. Berjalan sendirian ketika jam menunjukan pukul setengah sebelas malam cukup menciutkan sedikit hati da. Alhamdulillah da sampai di rumah dengan selamat dan masih terjaga dari halalnya apa yang da makan dan da minum.
Read More
    email this